Nov 26
2015

Dinilai Sukses Melatih Leicester, Ranieri Tetap Rendah Hati

Dinilai Sukses Melatih Leicester, Ranieri Tetap Rendah Hati

 

Berita BolaLondon – Berbeda dengan Jose Mourinho yang mengatakan bahwa membawa Chelsea menjadi juara musim ini sebagai mission impossible, Claudio Ranieri justru menunjukkan tak ada hal yang mustahil di sepakbola.

Memiliki skuat dengan harga murah, manajer yang pernah dianggap gagal itu justru sukses membawa Leicester City bertengger di puncak klasemen sementara Premier League.

Total 28 angka dikumpulkan Jamie Vardy dkk, hasil dari delapan kemenangan, empat kali imbang, dan hanya pernah merasakan satu kekalahan.

Torehan gol The Foxes pun cukup mengesankan. Mereka menjadi tim paling produktif dengan raihan 28 gol, meski lini belakang mereka telah kebobolan 20 gol.

Tak ada yang memungkiri otak di balik seluruh kesuksesan itu adalah Ranieri. The Tinkerman, begitu ia sempat dijuluki, sukses membawa Leicester sebagai tim paling mengejutkan di 13 pekan pertama Liga Inggris musim ini.

Kata tinker sendiri secara harafiah bisa diartikan ‘senang mengubah-ubah sesuatu. Panggilan berkonotasi negatif ini muncul pertama kali ketika Chelsea yang dilatih Ranieri disingkirkan AS Monaco di semifinal Liga Champions 2004.

Saat itu Ranieri dikecam karena keputusannya menempatkan Hernan Crespo di posisi gelandang kanan.

Usai kegagalan itu, Ranieri dipecat. Pelatih Italia itu lantas merintis jalan panjang dan singgah di berbagai klub, mulai dari Valencia, Parma, Juventus, AS Roma, Inter Milan, hingga AS Monaco. Ia juga sempat menjadi pelatih timnas Yunani.

Dari pengalaman 11 tahun belakangan, sedikit demi sedikit Ranieri mengumpulkan kebijakan yang ia dapatkan di klub sebelumnya. Salah satunya soal susunan pemain yang tak lagi ia utak-atik.

Tak hanya itu, dengan rendah hati ia meneruskan taktik manajer Leicester sebelumnya, Nigel Pearson, yang menerapkan sepak bola menyerang.

Ranieri juga tak menanggalkan identitasnya, yang dijuluki sebagai Mr. Nice Man. Ranieri terus menjadi pelatih yang menjabat tangan para pemainnya setiap pagi, dan mentraktir mereka makan pizza usai mendapatkan cleansheet pertama di Liga Inggris.

Padahal sebelumnya karakter Mr. Nice Man itu membuatnya mendapatkan panggilan lainnya: Nearlyman.

Sebabnya, Ia adalah pelatih yang selalu dipecat ketika membawa timnya menduduki peringkat dua, atau nyaris juara. Ini yang terjadi ketika ia pertama kali datang ke Inggris untuk melatih Chelsea.

Mengantarkan The Blues ke posisi tertinggi mereka di Liga Primer Inggris, Ranieri justru dipecat oleh Roman Abramovich. Hal sama terjadi ketika ia melatih Juventus, AS Roma, Inter Milan, dan AS

“Mungkin seharusnya saya melatih Arsenal saja,” kata Ranieri berkelakar tentang nasibnya tersebut.

Namun bersama Leicester, Ranieri dipastikan tidak akan menerima nasib serupa. Leicester yang musim lalu nyaris terdegradasi, justru akan senang jika Ranieri bisa membawa tim itu finis di peringkat kedua.

Namun menurut Ranieri, hal itu bukan target utamanya. Ia hanya ingin Leiscester meraih empat puluh angka, agar tetap bertahan di Liga Inggris.

“Sejak bergabung dengan Leicester, saya merasa seperti bayi. Saya merasa muda lagi. Di akhir karier saya bersama Leicester, saya ingin melihat para penggemar bahagia,” katanya.

Monaco.